Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Khadijah Putri Khuwailid - Si Wanita Suci

Posted by Unknown Selasa, 21 Mei 2013 0 komentar
ILUSTRASI

GAYA BUSANA MUSLIM - Dia adalah tokoh wanita sedunia pada masanya, putri Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay bin Kilab Al-Qurasyiyyah Al-Asadiyyah. Khadijah dikenal dengan julukan “Wanita Suci” Ia lahir dan tumbuh dari keluarga terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun Gajah. Khadijah adalah seorang wanita yang berpikiran tajam, tinggi cita-cita, dan mempunyai pribadi luhur, sehingga banyak tokoh Quraisy yang menaruh perhatian padanya.


Khadijah pernah dua kali menikah. Pertama, dengan Abu Halah bin Zurarah At-Tamimi yang menurunkan seorang putra bernama Halah dan seorang putrid bernama Hindun. Setelah abu Halah meninggal, Khadijah menikah lagi dengan ‘Atiq bin A’idz bin ‘Abdullah Al-Makhzumi. Pernikahan dengan suami kedua ini tidak berlangsung lama kerena mereka akhirnya berpisah.

Selama menjadi seorang janda, banyak tokoh laki-laki meminangnya, tapi semua pinangan itu ditolaknya dengan sopan, karena ia ingin lebih berkonsentrasi untuk mengasuh anak-anaknya dan mengurus usaha dagangnya. Khadijah adalah seorang saudagar yang kaya. Dia biasa memberi upah kepada kaum laki-laki yang mau meniagakan perdaganganya dengan cara bagi hasil.

Ketika sampai padanya berita tentang Muhammad – Sebelum diangkat menjadi nabi yang mempunyai sifat jujur, amanah, dan berakhlak mulia, ia pun mempercayakan kepadanya untuk meniagakan barang dagangannya ke negeri Syam bersama pelayannya, Maisarah. Imbalan yang diberikan kepada Muhammad lebih banyak daripada imbalan yang diberikan kepada orang lain.

Setelah terjadi kesepakatan, berangkatlah Muhammad bersama Maisarah ke negeri Syam. Dengan bimbingan Allah, Muhammad berhasil mendapatkan laba yang besar dan membuat Khadijah sangat gembira. Akan tetapi, sebenarnya kekaguman akan kepribadian Muhammad jauh lebih besar daripada sekedar kegembiraan karena Muhammad pulang dengan membawa laba yang banyak. 

Sejak saat itu dalam hati Khadijah mulai timbul perasaan simpati yang mendalam terhadap Muhammad, karena Muhammad tidak seperti laki-laki kebanyakan. Namun demikian, ia ragu apakah pemuda jujur dan terpercaya ini tertarik dan mau menikah dengan dirinya yang telah berumur empat puluh tahun atau tidak. Bagaimana pula ia harus bersikap dalam menghadapi kaumnya, karena sebelumnya dia pernah menolak pinangan para tokoh Quraisy.

Pada saat kebingungan bergejolak dalam hati Khadijah, datanglah sahabatnya, Nafisah binti Munabbih. Khadijah pun mengungkapkan gejolak perasaannya kepada sahabatnya itu. Dengan kecerdasannya, Nafisah mampu menangkap arah pembicaraan khadijah seraya mengingatkan bahwa ia adalah seorang wanita yang mempunyai segalanya. Ia terhormat, berketurunan bangsawan, kaya dan cantik. Nafisah menguatkan pendapatnya dengan kenyataan bahwa banyak laki-laki bangsawan yang meminangnya.

Setelah itu, Nafisah pergi menemui Muhammad untuk menanyakan langsung perihal perasaan Khadijah kepadanya. 

Nafisah bertanya kepada Muhammad: 
“Wahai Muhammad, apa yang menghalangimu untuk menikah?” 
Muhammad menjawab: “Aku tidak mempunyai apa-apa untuk menikah.” 

Nafisah tersenyum, lalu berkata:
“Seandainya ada yang mau mencukupimu dan engkau diminta untuk menikahi seorang wanita yang kaya, cantik, dan terhormat, apakah kamu mau?” 
Beliau kembali bertanya: “Tetapi siapa dia?” 

Nafisah segera menjawab: “Khadijah binti Khuwailid.” 
Muhammad pun menjawab: “Jika ia setuju, aku akan menerima.”

Nafisah segera menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Sementara itu Muhammad juga memberitahukan kepada paman-pamannya tentang keinginannya untuk menikah dengan sayyidah Khadijah. Selanjutnya Abu Thalib, Hamzah dan paman Nabi lainnya pergi bersama untuk menemui paman Khadijah, ‘Amr bin Asad, untuk meminang putri saudara ‘Amr itu bagi Muhammad dan menyerahkan maharnya.

Ketika akad pernikahan berlangsung, Khadijah menyembelih beberapa ekor ternak untuk dibagikan kepada fakir miskin. Ia juga mempersilahkan dan mengundang kerabat dan teman-temannya datang ke rumahnya. 

Diantara mereka yang hadir itu ada Halimah As-Sa’diyah (Ibu susuan Muhammad). Setelah acara selesai, Halimah kembali kepada kaumnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah dari Khadijah kepada wanita yang pernah menyusui Muhammad yang kini menjadi suaminya. Inilah salah satu keluhuran budi Khadijah yang telah ditunjukkannya sejak awal, ia begitu dermawan memberikan hadiah bagi fakir miskin maupun orang yang dekat dengan Muhammad.

Sejak resmi menjadi istri Muhammad, Khadijah benar-benar manjadi istri yang patut diteladani. Khadijah rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi orang yang dicintainya, salah satunya adalah ketika ia melihat bahwa suaminya senang dengan salah satu budak miliknya Zaid bin Haritsah, ia pun memberikannya kepada Muhammad. 

Selain itu, Khadijah sungguh wanita yang suci hatinya, ketika Muhammad bermaksud untuk mengajak salah seorang anak pamannya, ‘Ali bin Abu Thalib, tinggal di rumahnya, ia pun dengan lapang dada menyetujuinya. Bahkan ia memberikan keleluasaan kepada ‘Ali di rumahnya agar bisa meneladani ahlaq suaminya.

Allah memberikan berbagai nikmat kepada rumah tangga yang berbahagia ini. Mereka dikaruniai beberapa orang anak laki-laki dan perempuan, yaitu Qasim, ‘Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah.

Muhammad yang memiliki keluhuran budi memang berbeda dengan kebanyakan penduduk Mekkah kala itu. Sementara penduduk-penduduk Mekkah umumnya sering berfoya-foya serta terlena dalam perbuatan dosa, kesia-siaan, penyembahan berhala dan lain-lain, Muhammad lebih sering menyendiri berkhalwat memohon petunjuk dari Maha Pencipta. 

Beliau berkhalwat dan beribadah di gua Hira selama sebulan penuh setiap tahunnya. Dan Khadijah sebagai seorang istri tidak berpikiran sempit dan berkeberatan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh suaminya, karena ia yakin dengan kejujuran dan kebaikan suaminya. Khadijah tidak membebani pikiran suaminya dengan berbagai pertanyaan dan omongan yang tidak terlalu penting. Bahkan terkadang ia mengirim seseorang untuk menjaga dan mengawasinya tanpa bermaksud mengganggu khalwatnya.

Hingga suatu hari pada bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang membawa wahyu dari Allah, yang membuat Muhammad pulang ke rumah dalam keadaan takut, pucat dan menggigil, seraya berkata pada Khadijah: “Selimuti aku! Selimuti aku!” 
Khadijah langsung menuruti, tanpa banyak bertanya hingga dilihatnya suaminya cukup tenang, baru kemudian menanyakan apa yang tengah terjadi.

Kemudian Muhammad bercerita bahwa ia bertemu dengan orang yang menyuruhnya untuk membaca hingga berulang-ulang, sementara seperti diketahui bahwa ia tidak dapat membaca. Mendengar hal itu, Khadijah langsung menenangkan suaminya dan mengajak suaminya untuk bertemu anak pamannya Waraqah bin Naufal. 

Mendengar cerita dari Khadijah, Waraqah langsung berseru: 
“Qudduus, Qudduus!” (Mahasuci, mahasuci) “Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada dalam kekuasaanNya, jika engkau mempercayaiku, wahai Khadijah, sungguh telah datang kepadanya wahyu yang mahabesar, sebagaimana pernah datang kepada Nabi Musa dan ‘Isa as. Sesungguhnya Muhammad akan menjadi nabi bagi umat ini. Katakanlah kepadanya suapaya tetap tegar.”
Waraqah pun mengatakan pada Muhammad bahwa dalam membawa risalahNya kelak, Muhammad akan didustakan, disakiti, diusir dan diperangi.

Khadijahlah kemudian wanita pertama yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia juga kemudian tanpa ragu memberikan segalanya untuk membantu kepentingan dakwah Nabi, bukan hanya harta tetapi juga dengan segala yang ada pada diri Khadijah. Khadijah selalu menjadi tumpuan yang memberikan motivasi dan kekuatan bagi Nabi untuk menghadapi berbagai hinaan dan penolakan. Kesabaran dan keteguhan yang diberikan Khadijah membuat beban yang dipikul Nabi terasa ringan.

Khadijah turut membantu dakwah suaminya dengan mengajak kaumnya dengan perkataan maupun perbuatan. Islamnya Zaid, bekas budaknya dan empat anak perempuannya sendiri merupakan hasil pertama dakwah Khadijah.

Dalam menyampaikan risalah Allah, Muhammad banyak mengalami rintangan dan gangguan yang tidak hanya ditujukan pada dirinya, tetapi juga keluarga dan orang-orang terdekat yang telah masuk Islam. Namun, Khadijah selalu tampil bagaikan gunung yang kokoh berdiri karena ia memahami betul firman Allah :
“Alif laam miin. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja untuk mengatakan: ‘Kami beriman, sedang mereka tidak diuji?”
(QS.29Al-Ankabut :1-2)
Diantara ujian yang menimpa Khadijah dan Rasulullah adalah kematian dua anak laki-lakinya yang masih kecil, yaitu Qaim dan Abdullah. Khadijah tetap sabar dan ikhlas menerima takdir yang menimpa kedua putranya.

Ia pun juga yang menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri matinya seorang syahidah pertama dalam Islam (Sumayyah). Sumayyah harus meregang nyawa di tangan para thagut karena mempertahankan imannya hingga menghembuskan nafas terakhir sebagai wanita yang mulia dan terhormat.

Khadijah juga harus rela berpisah dengan putrinya Ruqayyah, istri Utsman bin ‘Affan karena harus berhijrah ke negeri Habsyi untuk menyelamatkan agamanya dari kaum musyrik.

Khadijah telah melihat dan mengalami masa-masa sulit yang penuh dengan teror dan penyiksaan. Namun, ia melihat suaminya yang selalu sabar dan ikhlas dalam menghadapi berbagai hal, sehingga ia pun tak pernah putus asa dan selalu ada untuk mendukung Nabi.

Khadijah selalu mencontoh suaminya sang teladan paling agung dan figur yang amat teguh dalam mempertahankan keimanan. Karenanya, ketika kaum Quraisy mengumumkan pemboikotan terhadap kaum muslim secara politik, ekonomi dan sosial dengan menggantungkan dokumen pemboikotan dalam Ka’bah. 

Tanpa ragu Khadijah bergabung bersama kaum muslim di kubu Abu Thalib, walaupun harus menjauh dari kabilah yang dicintainya. Dengan penuh kesabaran, ia jalani masa boikot yang menyusahkan bersama Nabi dan para sahabat yang lain, hingga akhirnya dokumen pemboikotan hancur dimakan rayap atas pertolongan Allah.

Pada masa pemboikotan tersebut Khadijah mengeluarkan segala yang dimilikinya untuk meringankan beban yang menimpa kaum muslimin, pada saat itu ia berusia 65 tahun.

Tidak lama setelah masa pemboikotan selesai, mujahidah yang suci dari kaum Quraisy harus menghadap Allah, setelah beberapa bulan sebelumnya paman Nabi, Abu Thalib meninggal terebih dulu. Peristiwa ini terjadi tiga tahun sebelum hijrah, sungguh cobaan yang sangat berat bagi Nabi, karena beliau harus kehilangan tulang punggung dakwah Islamiyah.

Demikianlah, wanita suci dari Quraisy ini wafat setelah menjalankan tugasnya berdakwah dan menyebarkan agama Allah. Ia adalah seorang istri yang memiliki kepandaian serta kebijaksanaan yang dapat membuat Rasul merasa tenang dan kuat menjalankan misi dakwahnya. 

Muslimah dan seorang Ibu yang dapat mengatur segala hal serta memiliki kemurahan untuk selalu memberikan hartanya untuk kepentingan dakwah suaminya. Ia ikhlas memberikan harta dan membantu segalanya dengan hanya berharap ridha Allah dan kerelaan Rasul-Nya.

Maka, sudah sepantasnyalah ia mendapat salam dari Allah dan mendapat kabar gembira bahwa untuknya akan dibuatkan sebuah istana di surga yang terbuat dari mutiara, yang penuh ketentraman dan kenyamanan didalamnya.

Dan seharusnya muslimah dapat meneladani Khadijah yang mulia. Menjadi istri yang selalu menurut pada suami dan menjadi penghibur dan penentram dikala suami menghadapi tugas atau cobaan yang berat. Dapat cerdas menyikapi permasalahan tidak dengan emosi dan juga keegoisan, menaruh kepercayaan pada suami yang menjalankan fungsi imam semata-mata karena mengharap ridho.





Baca Selengkapnya ....

Pemuda yang Menikahi Wanita Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh

Posted by Unknown Sabtu, 11 Mei 2013 0 komentar


GAYA BUSANA MUSLIM - Seorang lelaki yang soleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. 

Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu, akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahawa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya. Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar meninta dihalalkan buah yang telah dimakannya.

Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. 


Maka langsung saja dia berkata,
“Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkan nya”

Orang itu menjawab,
“Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebunnya”

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi,
“Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah ku makan ini.”

Pengurus kebun itu memberitahukan,
“Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu.
Katanya kepada orang tua itu,
“Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa izin pemiliknya." 

Bukankah Rasulullah s.a.w. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: 
“Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,
”Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Kerana itu mahukah tuan menghalalkan apa yang sudah ku makan itu?”

Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba,
“Tidak, aku tidak boleh menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” 

Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu kerana takut ia tidak dapat memenuhinya.
Maka segera ia bertanya,
“Apa syarat itu tuan?” 

Orang itu menjawab,
“Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, 
“Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?”

Tetapi pemilik kebun itu tidak mempedulikan pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya,
“Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berfikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? 

Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi,
“Selain syarat itu aku tidak boleh menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap,
“Aku akan menerima pinangannya dan perkahwinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya kerana aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkahwinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya.

Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berfikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, kerana bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam,
“Assalamu”alaikum…”

Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini.
“Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”
Kata Tsabit dalam hatinya.

Tsabit berfikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk di samping isterinya, dia bertanya,
“Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa?” 

Wanita itu kemudian berkata,
“Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. 

Tsabit bertanya lagi,
“Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli, mengapa?”

Wanita itu menjawab,
“Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah."
Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?”
Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. 

Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. 
Selanjutnya wanita itu berkata,
“Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang boleh menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”

Tsabit amat bahagia mendapatkan isteri yang ternyata amat soleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang isterinya,
“Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”

Tsabit dan isterinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikurniakan seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia, Beliau adalah

Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit


Sumber :  akhwatmuslimah




Baca Selengkapnya ....

7 Profesor Barat Masuk Islam Karenanya.

Posted by Unknown Selasa, 30 April 2013 0 komentar

Illustrasi
Dengan Jilbabnya Ia pun Mampu Berdakwah

GAYA BUSANA MUSLIM - Kisah yang satu ini merupakan salah satu contoh dari sekian banyak potret kehidupan seorang wanita muslimah yang begitu bangga dan merasa terhormat dengan agama yang selama ini ia telah hadir mewarnai perjalanan hidupnya . Seorang muslimah yang di hatinya terdengar keras detak syiar agama Allah .

Itualah hati yang mampu mengenal Allah dan Rasul Nya sehingga keraguan tak pernah lagi dijumpai di dalamnya. Dialah sosok seorang wanita muslimah yang hatinya selalu selalu memikul tanggung jawab da’wah. Namun sayang figur semacam ini ternyata langka untuk kita temukan. Ya memang sangat langka sekali.

Ummu Abdul Aziz, begitulah wanita ini biasa disapa dalam kesehariannya. 
Suaminya seorang dokter yang tinggal di kota Riyadh, Saudi Arabia.

Pada satu kesempatan, Ummu Abdul Aziz harus menyertai suaminya untuk menghadiri salah satu konferensi medis yang diselenggarakan di salah satu negara Eropa. Dengan langkah pasti ia iringi keberangkatan sang suami. Ya, ia sadar sekali bahwa Tuhan yang selama ini ia sembah di negaranya tak lain adalah Tuhan yang akan ia jumpai di negera eropa tersebut. 

Tuhan yang satu, Allah. Demikian pula halnya kaum Pria yang ia jumpai nya di negara asalnya, Arab Saudi. Oleh karena itu , setibanya di negara tujuan, kondisinya tidak berubah sedikitpun.

Komitmennya untuk senantiasa melaksanakan segala perintah Tuhannya ia selalu pegang dengan baik. Hal ini nampak terlihat jelas dari cara ia berpakaian. Potongan kain yang dikenakannya menutupi seluruh anggota tubuhnya.. 

Illustration

Ya Ummu Abdul Azis mengenakan pakaiannya secara lengkap sehingga tidak tak sedikitpun anggota tubuhnya yang dapat terpandang mata, meskipun ia berada di kawasan Eropa yang identik dengan mode-mode pakaian masa kini . 

Oleh karenanya wajar apabila masyarakat Eropa yang menjumpainya merasa heran dengan pemandangan yang sangat asing seperti yang ia tampakkan. Ia pun mulai menjadi pusat perhatian, seakan-akan bertanya
” Makhluk apakah yang ada di balik kain hitam ini?” 
Benar-benar pemandangan yang sungguh aneh bagi mereka. 


Pada suatu hari, beberapa wanita Eropa berkumpul mendatanginya. Rata-rata mereka adalah para profesor yang bisa dibilang sudah cukup berumur. Dialogpun akhirnya berlangsung di antara mereka (Qadaralllah ummu Abdul Aziz mampu berbahasa Inggris). 

Dengan begitu beraninya salah seorang dari mereka mengajukan sebuah pertanyaan ,
Kamu pasti berpenampilan seperti ini hanya untuk menyembunyikan cacat di badanmu bukan ?  
Atau mungkin sekedar menutupi wajahmu yang nampak tidak cantik ?? 

Ya kiranya anggapan seperti itulah yang tertanam di benak mereka selama ini terhadapnya. Ummu Abdul Azis angsung membawa mereka ke salah satu sudut ruangan , lalu membuka cadar yang selama ini menutupinya wajahnya. 

Ternyata ia nampak sebagaimana wanita normal pada umumnya , tanpa ada cacat sedikitpun sebagaimana dugaan mereka. Bahkan mungkin parasnya lebih cantik dari wanita biasanya, insya Allah. Kesempatan ini tentu tidak ia biarkan berlalu begitu saja tanpa menyampaikan sesuatu kebenaran.

Setelah memperlihatkan wajahnya , Ummu Abdul Azis langsung mulai masuk ke pembicaraan inti. Ia jelaskan kepada mereka bagaimana Islam memposisikan wanita . 

Ia paparkan sejauh mana penghormatan dan aparesiasi agama Allah ini terhadap kaum Hawa selain ia berikan gambaran tentang ajaran agama Islam secara umum.


Tahukah apa yang terjadi setelah itu ? 

Ya setelah tiga jam berlalu, sebanyak tujuh dari sepuluh Professor wanita tadi langsung mengikrarkan keislaman mereka! 

Tak lain karena Ummu Abdul Aziz atas izin Allah! Bayangkan tujuh orang Professor masuk Islam hanya dalam kurun waktu tiga jam setelah melakukan dialog.

Sebagai seorang muslimah Ummu abdul Aziz tidak merasa kecil sehingga menjadi asing dengan ajaran agamanya Kehadirannya di negara pengusung faham liberalisme yang jauh dari tata nilai sosial tersebut .

Ia tetap berpakaian muslimah sejati dan tidak mempengaruhinya untuk berganti pakaian super ketat dengan hiasan renda di sana-sini seperti perhiasan kejahiliyahan layaknya barang murahan.

Tujuh orang professor wanita menyatakan keislaman mereka . Allah pun meninggikan derajat mereka dengan agama ini. Agama yang selama ini menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi sosok seperti Ummu Abdul Aziz. 

Figur dari seorang muslimah yang berusaha untuk mengajak umat ini kepada jalan Allah. Ia fungsikan dirinya sebagai media turunnya hidayah bagi siapa yang Allah kehendaki. Dengan cara seperti ini ia mampu merubah pandangan minor mereka terhadap agama yang Allah ridhai ini.

La ilaha ilallah….
semoga Allah senantiasa memberikan taufikNya kepada dirimu, Ummu Abdul Aziz.
Allah jaga dirimu sehingga benar-benar bermanfaat bagi agama dan ummat ini. ..Amiin


Disadur dari isah tulisan: Muhammad Saleh Al Qathan - www.eramuslim.com


Baca Selengkapnya ....

10 Strategi Syetan Untuk Membuka Aurat Wanita

Posted by Unknown Senin, 29 April 2013 0 komentar



GAYA BUSANA MUSLIM - Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su'). 

Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.


1. Menghilangkan hijab (penutup)

Perubahan zaman dan budaya manusia menyebabkan pakaian lebih berfesyen dan semakin banyak baju yang merendahkan aurat. Pada tahap ini syaitan berbisik kepada wanita dengan berkata bahawa pakaian hanyalah sekadar hiasan dan tiada berpengaruh dengan agama. 

Justru itu, tidak mengapa sekiranya memakai pakaian yang membuka aurat. Namun, teknik ini tidak semestinya berkesan terutama kepada wanita yang berpendirian dan percaya bahwa memakai pakaian syar’i ialah satu ibadah dan bukan sekadar berfesyen. Jika hasutan ini gagal, syaitan akan beralih kepada strategi yang lebih licik seperti di bawah.

2. Membuka bahagian tangan

Aurat wanita meliputi seluruhnya kecuali muka dan tapak tangan. Seharusnya menjadi kebiasaan tapak tangan tidak ditutup. Jadi, syaitan mengambil kesempatan ini untuk menghasut wanita dengan berkata,
 “Tak mengapa jika memakai baju lengan pendek. Kamu masih pakai tudung.” 
Di pasaran pula banyak pakaian berlengan pendek terutamanya fesyen baru. Wanita yang terpedaya pun memakai baju lengan pendek dan ternyata ia kelihatan biasa pada pandangannya maupun pandangan seorang lelaki, lalu syaitan berbisik lagi, “Tidak mengapa kan..?”


3. Membuka leher dan dada

Setelah menjadi kebiasaan merendahkan sebagian lengan, datang lagi syaitan dan berbisik, 
“Tak mengapa kan membuka lengan. Sekarang ada fesyen baru yang merendahkan bahagian dada. Baju ini terbuka sedikit saja agar kamu tidak terasa panas. Orang pasti berkata biasa saja.” 
Wanita itupun memakailah baju tersebut, daripada merendahkan sedikit, sehingga yang nampak lagi bahagian dadanya.

4. Berpakaian tetapi bertelanjang

Tidak cukup dengan itu, syaitan membawa lagi idea baru. Kali ini syaitan berbisik, 
“Baju kamu itu dah biasa dah ramai orang yang pakai. Sekarang ini ada fesyen baru lagi. Baju ini tipis dan ketat saja. Boleh kamu tunjukkan bentuk badan kamu yang cantik itu. Tidak mengapa, sebab potongan baju ini masih panjang.” 
Maka wanita ini pun memakai baju berfesyen sebegitu sehingga menjadi kebiasaan malah baju yang dipakai semakin ketat dan jarang. Jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang).


5. Membuka sedikit

Setelah memakai pakaian ketat dan jarang, datang lagi syaitan dan berbisik, 
“Susah la kalau kamu pakaian ketat semacam ini. Bergerak pun terasa terbatasi. Apa kata kamu cuba kain yang telah dibelah sampai ke lutut. Nanti lebih senang kamu untuk duduk. Tidak mengapa kamu rendahkan sedikit saja yang penting kamu selera.” 
Maka dipakailah pakaian wanita yang terbelah. Ternyata ia memberi keluasan dan memudahkan dalam bergerak.

6. Membuka telapak kaki dan tumit

Syaitan berbisik lagi,
 “Sudah tak sesuai lagi kamu berpakaian begini. Kain ini masih bagus walaupun dibelah hingga lutut. Kamu potong saja lagi hingga di atas tumit. Kamu pendekkan kain ini sehingga atas tumit untuk memudahkan kamu berjalan.” 
Wanita terus mengikuti godaan syaitan ini dan memakai kain singkat serta ditambah pula dengan kasut tumit tinggi.

7. Membuka separuh betis

Sekarang, wanita ini sudah biasa memakai kain singkat dan ternyata masih kelihatan biasa pada pandangan orang. Syaitan berbisik lagi, 
“Fesyen kamu ni masih biasa saja. Orang macam tak kisahkan. Apa kata kamu cuba fesyen lain yang lebih menonjol. Di pasaran banyak kain skirt. Tak perlu beli yang sangat pendek. Yang separuh betis saja.” 
Sekarang ni syaitan sudah menjadi seperti penasihat peribadinya. Maka dituruti hasutan tersebut. Pada tahap ini tudung sudah tidak dipakai.


8. Membuka seluruh betis

Wanita ada terfikir, “Betulkah tindakan aku ni? 
Apakah tidak berselisih dengan wanita zaman nabi dulu?” 

Syaitan pula menggunakan muslihat dengan mengaitkan zaman dahulu dengan sekarang. 
Syaitan berkata, 
“Ahh!! Tidak.. Sekarang zaman dah berubah. Dulu lelaki tak suka kalau perempuan menampakkan auratnya, tetapi lelaki sekarang banyak yang suka. Yang seksi-seksi terutama, mesti tidak terlalu seksi tapi terbuka sedikit. Di pasaran banyak pakaian zaman sekarang yang menampakkan seluruh betis. Kalau kamu tidak ikut kamu akan ketinggalan zaman.” 
Maka pakailah wanita tersebut pakaian yang menampakkan seluruh betis.

9. Serba mini

Setelah pakaian menampakkan seluruh betis menjadi kebiasaan, datang lagi syaitan menghasut,
“Pakaian kamu perlu ada variasi. Jangan pakai yang seperti itu saja. Kamu perlu pakai skirt mini. Kamu akan nampak lebih seksi dan menawan.” 
Maka pakailah wanita ini skirt mini malahan bukan skirt saja yang mini, bajunya, skirtnya, semuanya dah menjadi kecil dan seksi. Bajunya juga sudah bervariasi seperti berlengan pendek, merendahkan sebagian dada dan sebagian pehanya. 

Ada yang dikhaskan untuk berpesta, bersosial, pakaian kerja, pakaian rasmi, pakaian malam dan sebagainya.

10. Hampir semua terbuka

Muncul pula keinginan untuk mandi di kolam renang terbuka dan pantai. Syaitan berbisik, 
“Pakailah kamu bikini.. Semua orang di sana pakai baju itu. Kamu tak perlu malu.” 
Wanita ini pun tanpa segan lagi memakai bikini yang hanya menutup sebahagian dada dan pahanya. Dia pun bersuka ria terutama apabila semua lelaki memandangnya. Pada tahap ini auratnya sudah tidak direndahkan lagi.



Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjeru-mus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. 

Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.

Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat.


Wallahua’lam bish Shawwab...
Sumber :  http://lutfiahalmubarak.blogspot.com



Baca Selengkapnya ....

Mualaf yang menjadi Duta Muslimah

Posted by Unknown Minggu, 28 April 2013 0 komentar



GAYA BUSANA MUSLIM – Beberapa media ternama di Inggris menyebut meroketnya jumlah mualaf di negeri mereka — sebagian besar motornya adalah kaum wanita. Sebuah riset di Eropa menyebutkan jumlah mualaf perempuan jauh lebih banyak dari laki-laki. Meski demikian, riset yang dilansir oleh Christian Science Monitor beberapa waktu lalu itu tidak menyebut angka statistik yang pasti.

Penelitian yang dilakukan untuk organisasi keanekaragaman ras Faith Matters menemukan 5.200 orang masuk Islam di Inggris tahun lalu.
“Banyak wanita yang merasa jenuh dengan gaya hidup masyarakat Barat. Mereka lebih suka pendekatan yang sifatnya lebih spiritual,”
tulis The Daily Star mengutip Fiyaz Mughal, Direktur Faith Matters.
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman :  "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat"
(QS.24 Al-Noor :30)
Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] nampak daripadanya. 
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan [terhadap wanita] atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
(QS.24 Al-Noor :31)

Bahkan, di antara mereka, ada juga beberapa yang sebelumnya telah terkenal. Kini mereka tak hanya menjadi muslimah, mereka juga aktif menjadi ‘duta’ umat Islam. 

Siapa sajakah mereka?

Berikut ini beberapa  di antara mereka:




HANA TAJIMA SIMPSON – Menganut Islam tahun 2000-an. Blesteran Inggris-Jepang itu tinggal di London dan dikenal sebagai salah satu ikon generasi muda Muslim modern Inggris. Ia berdakwah melalui busana.




MYRIAM FRANCOIS CERRAH – Mantan aktris cilik – pernah bermain di film sohor, Sense and Sensibility – ini memilih Islam sebagai keyakinan barunya setelah menginjak usia dewasa. Jebolan Fakultas Filsafat Universitas Cambridge ini kini dikenal sebagai penulis. Ia kini tinggal di London.




TAYYIBAH TAYLOR – Berdarah Trinidad dan menjadi Muslim setelah tinggal di Amerika Serikat. Peraih New American Media National Ethnic Journalism Award 2009 dan Media Award from the Concerned Black Clergy of Atlanta 2005 ini kini aktif berdakwah melalui Majalah.




KRISTIANE BACKER – Mantan VJ MTV Eropa ini menganut Islam tahun 1990-an. Wanita kelahiran Hamburg Jerman tahun 1965 ini menuangkan pilihannya pada Islam dalam dua bukunya, From MTV to Mecca: How Islam Has Changed My Life, dan Islam as a Way of the Heart. 

Menjadi model untuk kampanye anti-Islamophobia di negaranya.
”Aku menemukan, Alquran sarat dengan hal-hal rasional. Pandangan lamaku tentang Islam pun akhirnya berubah. Karena apa yang kupelajari, berbeda dengan anggapan orang-orang di sekitarku tentang Islam,” aku Kristiane.




SARAH JOSEPH – Tertarik menganut Islam karena terkesima dengan gerakan shalat. Ia kini pemimpin redaksi Majalah Muslimah Emel yang terbesar di Inggris. Ia rajin menuangkan pemikirannya melalui tulisan.


Sumber :  muslimahzone.com



Baca Selengkapnya ....

Test Footer

Video Jilbab Style Secret

Cara Buat Email Di Google | Copyright of Tata Busana SMK Plus Qurrota A'yun.